Minggu, 18 Juni 2017

Diet vs Olahraga Mana Yang Lebih Efektif?

Diet vs Olahraga Mana Yang Lebih Efektif? - Jangan percaya jika ada yang bilang olahraga lebih baik. Jangan juga mudah terpengaruh jika ada yang mengatakan sebaliknya. Anda harus menemukan jawabannya sendiri.

Ada dua hal kunci yang perlu Anda perhatikan jika ingin mendapatkan tubuh langsing dan sehat. Pertama, membatasi asupan kalori. Kedua, olahraga rutin minimal tiga kali dalam seminggu. Rasanya, semua orang tahu tentang hal ini. Namun, menjalankan keduanya sekaligus, masih dirasa cukup berat.



Definisi Diet

Diet adalah atauran kesehehatan da biasanya dilakukan atas petunjuk dokter atau konsultan. Secara umum diet bermakna sebuah usaha untuk menurunkan berat badan denga mengatur pola makan dan mengatur asupan nutrisi tertentu. Dengan diet, alias mengatur pola makan, yang paling utama adalah mengurangi asupan kalori harian. Jika dilakukan dengan konsisten, tubuh akan menyesuaikan kebutuhan kalori dengan energi yang dihasilkan dari metabolisme. Hasilnya, dengan konsumsi kalori yang lebih sedikit, tubuh akan menyimpan cadangan makanan dalam jaringan lemak yang lebih sedikit, sehingga mempermudah penurunan berat badan


Definisi Olahraga

Olahraga merupakan aktivitas gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Berolahraga dapat membantu metabolisme tubuh menjadi lancar, sehingga distribusi dan penyerapan nutrisi di dalam tubuh menjadi lebih efisien dan efektif.

Dalam sebuah studi tahun 2012, dinyatakan bahwa diet yang berdiri sendiri memberikan hasil penurunan berat badan sebesar 8.5% dan olahraga sebesar 2.4%. Sedangkan kombinasi keduanya dapat menurunkan berat badan hingga 10.8%.
Penurunan jumlah lemak tubuh pun lebih besar pada kombinasi diet dan olahraga (12.4%). Disusul oleh diet saja (8.9%), dan berolahraga saja (3.3%).
Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kombinasi diet dan olahraga lebih efektif untuk menurunkan berat badan dibandingkan dengan diet atau olahraga saja.
Penting untuk diketahui bahwa diet bukanlahsekadar mengurangi porsi makan. Diet berarti juga mengatur pola makan menjadi lebih sehat. Jika diet dilakukan tanpa didampingi olahraga, biasanya tubuh menjadi lemas, dan karenanya bisa menggagalkan diet itu sendiri!
Olahraga tidak hanya berfungsi untuk membantu membakar kalori. Fungsi metabolisme tubuh juga dapat meningkat dan lebih maksimal ketika seseorang berolahraga. Dengan demikian, asupan nutrisi yang didapat dari diet bisa disirkulasi dengan baik.
Inilah mengapa, untuk mendapatkan tubuh yang ideal dan sehat, dokter selalu menganjurkan Anda untuk mengombinasikan diet dengan olahraga.
Yuk, kombinasikan diet dan olahraga. Anda tak hanya mendapatkan berat bada ideal saja, namun juga tubuh yang lebih sehat! 



Rabu, 14 Juni 2017

Penting Mengetahui Tipe Diabetes dan Gejala-Gejalanya

Diabetes

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi yang disebabkan oleh ganguan pada sekresi insulin atau gangguan kerja insulin atau keduanya.



Diabetes terjadi ketika tubuh tidak mampu memproduksi atau tidak  bisa merespon hormon inslin yang dihasilkan oleh organ pankreas, sehingga kadar gula meningkat. Jika hormon insulin tidak ada atau sedikit jumlahnya maka gula yang ada dalam darah tidak dapat terangkut sehingga menyebar diseluruh pembuluh darah.

Ada 2 tipe diabetes, yaitu

Diabetes tipe 1

suatu kondisi dimana tubuh sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin. Sehingga penderita harus menggunakan sunitikan dalam mengatur gula darahnya.

Diabetes tipe 2

Diamana tubuh masih bisa tetap memproduksi hormon insulin tapi karena jumlah yang sedikit atau tidak dapat digunakan dengan baik. Tipe ini merupakan yang terbayak diderita saat ini pada mereka yang berusia diatas 40 tahunn.

Gejala Diabetes

  • Gejala umum diabetes tipe 1 antara lain sering buang air kecil (polyuria). Sering haus (polydipsia dan sering merasa lapar (polyphagia). Dlam medis gejala ii lebih dikenal dengan gejala klasik. Gejala ini akan membruk seiring dengan tidak terkontrolnya kadar gula yang sangat tinggi dalam darah (hoperglikemia) sehingga merusak jaringan dan organ-organ tubuh serta komplikasi.


  • Gejala  diabetes tipe 2, antara lain :

  1. Sering merasa haus terus-menerus
  2. Frekuensi buang air kecil lebih sering
  3. Sering lelah dan meras mengantuk.
  4. Sering terbangun pada malam hari dari tidur karena ingin berkemih.
  5. Sering dan banyak makan
  6. Mengalami perubahan  berat badabaik naik maupn turun secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas.
  7. Penglihatan menjadi kabur
  8. Sering kesemutan pada tangan atau kaki.
  9. Gairah seksual menurun
  10. Gatal-gatal pada kelamin luar.


Faktor Resiko Diabetes

  1. Faktor genetik.
  2. Obesitas
  3. Usia diatas 40 tahun
  4. Gestational diabetes atau melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 Kg
  5. Hipertensi
  6. Angka Triglycerid yang tinggi.
  7. Memiliki kolestrol tinggiGaya hidup yang cenderung tidak sehat
  8. Perokok aktif amupn pasif.
  9. Setres


Apa yang dimaksud dengan Pre Diabetes?

Pre diabetes adalah suatu keadaan dimana gula darah lebih tinggi dari pada normal tapi belum termasuk dalam kategori diabetes.


Seseorqang yang mengalami pre diabetes cenderung lebih beresiko terkena diabetes tipe 2, kecuali apabila dia menjaga pola hidup dan bisa menurunkan berat badanya.

Selasa, 13 Juni 2017

Mengetahui Cara Penghitungan Obesitas dan Penyebabnya


Mengetahui Cara Penghitungan Obesitas dan Penyebabnya

Dewasa ini banyak sekali penyakit yang muncul salah satunya disebabkan oleh obesitas. Obesitas atau kelebihan berat badan adalah dua istilah yang berbeda. kelebihan berat badan (overweight) adalah kondisi berat badan yang melebihi berat normal pada umumya. Sementara obesitas adalah suatu keadaan dimana terjadi peneumpukan lemak tubuh yang berlebihan sehingga berat badan jauh diatas normal.  Namun tetap saja keduanya sangat berpengaruh pada kelangsugan kesehatan tubuh manusia.




Obesitas sendiri di Indonesia dilaporkan mencapai 40 juta orang dari kalangan dewasa dan indonesia juga masuk ke perigkat 10 terdaftar sebagai negara-negara dengan tingkat obesitas atau kelebihan berat badan terbayak didunia.
Kelebihan berat badan dapat ditentukan dengan perhitungan Indeks Masa Tubuh (IMT). Cara perhitungannya adalah berat badan dalam kilogram dibagi kuadrat dari tinggi badan dalam satuan meter.
Rentang : 
18,5 - 24,9 Kg/m2 = IMT yang sehat
25,0 - 29,9 Kg/m2 = Overweight
30,0 - 34,9 Kg/m2 = Obesitas Kelas I
35,0 - 39,9 Kg/m2 = Obesitas kelas II
Diatas 40 Kg/m2   = Obesitas kelas III

Namun IMT tidak bisa digunakan untuk menghitung persen lemak tubuh. Nah, persen tubuh ini dapat di ukur menggunakan alat yang dinamakan body fat analyzer atau pengukur kadar lemak. Cara penggunaanya cukup mudah. Cukup nyalakan alat dan masukan data tinggi badan anda dan usia anda. Setelah itu pegang alat tersebut, maka kadar lemak dalam tubuh akan muncul dilayar.
Penyebaran lemak tubuh pada wanita dan laki-laki itu berbeda. Jadi, klasifikasi persen lemak tubuh antara laki-laki dan wanita berbeda. Dalam keadaan normal, lemak tubuh sebanyak 15-20% dari berat badan terdapat pada usia remaja, sedangkan perbandingan yang normal antara lemak tubuh dengan berat badan pada pria sekitar 18-23%. Peningkatan jumlah lemak tubuh pada pria dewasa tua (> 30 tahun), bisa mencapai 27% dari berat badan. Dengan semakin meningkatnya usia, persentase lemak tubuh pada laki-laki awalnya meningkat yaitu diawali usia 20 tahun hingga usia berkisar 50-60 tahun dan kemudian menurun setelah usia 80 tahun. Namun jika jumlah lemak tubuh telah mencapai 20% atau lebih dari total berat badan pria dewasa maka keadaan ini dapat dikatakan obesitas.


Penelitian terbaru menunjukan bahwa dalam beberapa kasus faktor genetik tertentu dapat menyebabkan perubahan nafsu makan dan metabolisme lemak yang memicu obesitas. Meskipun genetik dapat meyebabkan penambahan berat badan yang berujung pada obesitas, namun bukan menjadi penyebab utama. Seperti faktor lingkungan, gaya hidup, kurang melakukan aktivitas fisik dalam jangka waktu panjang juga memiliki pengaruh besar terhadap resiko seseorang memiliki kelebihan berat badan atau obesitas. Selain itu faktor yang dapat menyebabkan obesitas adalah faktor psiologi, seperti rasa rendah diri, stres, emosiaonal, trauma atau rasa bersalah yang dapat meyebabkan makan berlebihan  sebagai sarana untuk mengatasi masalah.

Ketahui apakah berat badan Anda sudah mulai berlebih dengan cara menghitung berat badan dan kadar lemak anda sediri dirumah atau memeriksakan diri ke dokter. Dengan berat badan normal, risiko penyakit akan menjadi menurun dan kualitas hidup Anda dapat tetap maksimal.